Salah satu program pemerintah yang sedang digalakkan saat ini adalah peningkatan kualitas publikasi ilmiah. Beberapa dasawarsa yang lalu, kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah Indonesia berada di urutan bawah di kawasan Asia Tenggara. Publikasi dosen dan peneliti Indonesia saat itu lebih sedikit dibanding dengan publikasi dari Malaysia, Singapura dan Thailand.

Namun demikian, semenjak dimulainya gebrakan kewajiban publikasi ilmiah dalam kancah internasional, secara perlahan kemajuan publikasi ilmiah Indonesia beranjak naik. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia sudah mampu menyalip Thailand, Singapura bahkan Malaysia. Data terakhir publikasi ilmiah terindek Scopus sampai April 2019 menunjukkan Indonesia telah berada pada urutan teratas di ASEAN.

Prestasi ini layak diapresiasi oleh semua pihak, baik pemerintah, kalangan kampus, akademisi dan peneliti serta pengelola terbitan berkala ilmiah. Namun, jika ditelisik lebih dalam, peningkatan publikasi ilmiah tersebut didominasi oleh kenaikan signifikan jumlah artikel prosiding dari seminar dan konferensi yang dipublikasikan dan diindeks Scopus. Dengan kata lain, jumlah artikel peneliti Indonesia yang dimuat dalam jurnal internasional bereputasi masih harus ditingkatkan. Di sini lain, jumlah jurnal Indonesia yang diindex Scopus masih sedikit dibanding dengan jurnal-jurnal di negara jiran. Masih banyak jurnal yang belum dikelola secara maksimal.

Persoalan di atas mendapat perhatian serius yang mendorong intensifikasi program-program peningkatan publikasi ilmiah. Di antaranya adalah program pendampingan percepatan akreditasi jurnal nasional. Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Mohamad Abdun Nasir, yang juga asesor substansi jurnal nasional Kemenristekdikti, terlibat aktif dalam program tersebut.

Misalnya dalam workshop percepatan akreditasi jurnal ilmiah nasional yang diadakan oleh Kemenristekdikti di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) di Majene pada tanggal 18-20 Juni 2019 dan di Universitas Khairun, Ternate, tanggal 6-8 Agustus 2019. Asesor substansi, yang berasal dari para pengelola jurnal perguruan tinggi seluruh Indonesia memberikan materi yang berkaitan dengan mutu substansi artikel jurnal. Sedangkan asesor menejemen berasal dari Relawan Jurnal Indonesia (RJI). Mereka memfokuskan pada peningkatan profesionalisme menejeman pengelola terbitan berkala ilmiah secara online.

Diharapkan program tersebut mampu mendorong kualitas terbitan ilmiah baik dari segi substansi dan pengelolaan. Saatnya jurnal-jurnal ilmiah yang dikelola oleh kampus maupun asosiasi ilmiah tampil ke depan berkontribusi dalam penyemaian pemikiran dan ilmu pengetahuan serta diseminasi hasil-hasil riset mutakhir para dosen dan peneliti Indonesia.