Dinas Koperasi NTB mengadakan Diklat Akuntansi Syariah bagi pengelolaan koperasi syariah se-NTB. Kegiatan ini dilaksanakan di UPTD Balai Diklat (Balatkop) Dinas Koperasi NTB tanggal 25 s/d 29 Maret 2019.

Tujuan diklat ini adalah dalam rangka pemberdayaan dan pengembangan koperasi melalui peningkatan kemampuan dan keterampilan pengurus/pengelola koperasi syariah dalam membuat/mengerjakan administrasi keuangan khususnya laporan keuangan syariah. Kegiatan ini  dilaksanakan bagi para pengelola Koperasi Syariah yang ada di seluruh kabupaten/Kota se-NTB.

Kegiatan ini dilaksakana selama 5 hari yang diawali dengan menyelesaikan soal pre test. Materi mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap dengan ketentuan teori paling banyak 40 % dan praktek paling sedikit 60 %. Materi-materi yang disampaikan dalam acara ini adalah pengantar pedoman akuntansi koperasi simpan pinjam dan pembiayaan syariah, produk-produk usaha pinjaman dan pembiayaan syariah, perkoperasian dan pola simpan pinjam dan pembiayan syariah, proses akuntansi syariah, tata cara penentan bagi hasil dan margin, dan komponen laporan keuangan koperasi simpan pinjam dan pembiayaan syariah.

Nara sumber dari kegiatan ini adalah dua orang berasal dari UIN Mataram, yakni Dr Muslihun Muslim (Kaprodi Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Mataram)  dan Dr. Muh Salahudin, M.Ag (Dosen Home Base Ekonomi Syariah Pascasarjana UIN Mataram dan WD 1 FEBI). Dua orang dari ahli akuntansi, yakni Muh Azlan, SE M.Ak, dan Refereandi Haeri, SE., M.Ak, dan tiga orang dari Dinas Koperasi NTB, yakni Kadis Dinas Koperasi (Drs H Saswadi, MM), Kabid FPSP (Erwardio, SH, dan Kasi (Yek Husen, SH).

Dalam kesempatan itu, Kaprodi ES Pascasarjana UIN Mataram Dr Muslim Muslim menekankan pentingnya menyatukan diri untuk membenahi koperasi Syariah di NTB, salah satu yang harus ditekankan dalam penguatan SDM, terutama terkait dnegan pemahaman produk-produk syariah yang dipakai di PKSPP/USPPS-Koperasi yang tersebar di NTB. Pada umumnya, masyarakat merasa kesulitan mengembangkan produk-produk syariah tersebut karena belum memiliki pengalaman. Intinya masalah jam terbang saja, misalnya jika produk itu telah dibiasakan maka pasti akan sangat mudah dipraktekkan. Hal ini tdak ubah seperti penggunaan mobil dengan mesin Matic, bagi yang belum pernah menggunakan tentu akan terasa sulit, padahal menggunakan mesin manual secara teori mestinya lebih sulit karena harus menggunakan kedua kaki. Sementara dengan mesin Matic cukup menggunakan salah satu kaki saja.

Rangkaian pelatihan ini kemudian ditutup oleh kepala Balatkop NTB Bapak Drs H Sobry, yang sebelumnya telah dilakukan post test untuk melihat sejauhmana daya serap para peserta setelah mengikuti materi yang telah dijadwalkan di atas.