Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) NTB dengan menggandeng Universitas Mataram (UNRAM) mengadakan seminar kajian literasi tentang Kajian Potensi Pelanggaran Lagu-lagu Berbahasa Sasambo di Televisi dan Radio perspektif akademik, budaya, agama, UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran dan P3SPS KPI RI.  Kegiatan digelar di Kampus FKIP Unram Selasa, (2/7/19).  

Menurut ketua KPID Provinsi NTB Yusron Saudi, S.Pd., M.Pd menerangkan seminar tersebut merupakan amanat UU 32 tentang SSJ (Sistem Stasiun Jaringan) dalam salah satu ayatnya, mengatur bahwa “Negara menguasai spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk penyelenggaraan penyiaran guna sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Ia menyampaikan, lagu-lagu berbahasa daerah adalah salah satu instrument program hiburan di radio dan tv, tetapi kalau dicermati penggunaan bahasa dan kalimat dalam lirik lagu-lagu bahasa daerah ternyata terdapat persoalan terjadi benturan dengan peraturan perundang-undangan (UU Penyiaran 32/2002 tentang penyiaran). Imbuh beliau, dalam menilai kata-kata dan kalimat lirik-lirik lagu daerah yang berbahasa sasak, Samawa dan Mbojo yang disiarkan radio dan tv terindikasi melanggar adat,adat dan undang-undang.

Berlatar belakang permasalahan tersebut KPID menyelenggarakan seminar tersebut untuk melakukan kajian dan analisis lagu-lagu berbahasa Sasambo perspektif akademik, budaya, agama dan undang-undang. Dengan tujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap konten-konten yang berbahaya bagi masyarakat NTB khususnya disiarkan (TV dan radio) dan produser bisa lebih berhati-hati dalam memilih bahasa yang akan dicantumkan dalam lagu .

Dalam seminar tersebut pihak KPID provinsi NTB menghadirkan Prof. Dr. H. Fahrurrozi, M.A. Dosen S2 Komunikasi dan Penyiaran Islam sebagai narasumber, karena kapasitas keilmuan beliau dalam bidang dakwah dan komunikasi Islam sehingga beliau yang sebagai dosen tetap di Prodi S2 KPI Pasacasarjana UIN Mataram dengan kepakarannya tersebut sangat mumpuni mengkaji lagu-lagu Sasambo. Dalam pepamaparannya beliau menyampaikan, bahwa peran media sangatlah penting di jaman ini, antara konten dengan bahasa pengantar informasi. Terkadang konten yang diberikan benar namun bahasa pengantar yang diberikan kurang tepat maka konten tersebut akan menjadi tidak benar/tidak baik. Disinilah peran literasi diperlukan dimana kita bisa menyatukan makna antara konten, gambar dan bahasa.

Sambung beliau, disamping kita dihadapkan perkembangan teknologi informasi yang pesat dengan sajian informasi sangat mudah didapatkan termasuk anak-anak usia belia sekalipun sudah sangat familier dengan beragam informasi media sosial dan hiburan yang mudah diakses melalui mobile handphone dan fasilitas komunikasi lainnya. Juga, media Televisi dan Radio masih menjadi salah satu media komunikasi dan informasi yang efektif. Radio dan TV banyak menyajikan hiburan dan entertaiment lainnya. Menurutnya, satu hal yang patut disyukuri bahwa saat ini telah muncul kecintaan kaum melinial terhadap seni budaya daerah, termasuk lagu-lagu daerah (Sasambo). Terbukti dengan makin banyaknya lagu-lagu sasambo yang digandrungi dan disiarkan di radio maupun TV lokal Terbukti dengan makin banyaknya lagu-lagu sasambo yang digandrungi dan disiarkan di radio maupun TV lokal.

Tak terelakkan ditengah semangat berkreativitas seni itu, tentu terkadang muncul ekspresi atau kata-kata dan ungkapan dalam lagu dan seni tersebut yang kurang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal, budaya dan agama. Disinilah menurut Prof. Fahrurrozi, bahwa peran para tokoh agama; tuan guru, ustadz atu pendakwah lainnya, budayawan, akademi dan para cerdik pandai memberi kajian akademis dan masukan agar kontens-kontens yang disiarkan tidak menimbulkan konflik atau kesalahpahaman ditengah kehidupan beragama dan bermasyakat dengan tidak bertentangan dengan budaya sasambo yang hiterogen. Juga, beliau tidak lupa menjelaskan keharaman mendengarkan dan menyiarkan lagu apabila berisi ujaran-ujaran yang dilarang agama. Beliau menjeaskan mendengarkan lagu-lagu sebenarnya halal, bila konten lagunya mendidik dan tidak melanggar agama, karena lagu dapat dihukumkan sama dengan berbicara.