Sebagai salah satu follow up kerjasama antara Pascasarjana UIN Mataram dengan MAARIF Institut Jakarta, digelar kegiatan pelatihan penguatan kapasitas pengawas sekolah dan auditor untuk promosikan toleransi dan multikulturalisme di sekolah. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari (25-27 Juni 2019) ini bertempat di Hotel Golden Palace Mataram.

“Mengajak para pengawas dan auditor sekolah untuk membantu mempromosikan pandangan, sikap, dan prilaku toleran di kalangan kepala sekolah dan guru merupakan langkah penting sekaligus strategis. Di luar tugas-tuga kepengawasan yang bersifat administratif, para pengawas sekolah sejatinya memiliki peran strategis dalam membantu sekolah mengelola pluralitas dan realitas multikultur warganya  secara dewasa dan bijaksana”, demikian ungkap Prof.Dr. Suprapto, M.Ag, Direktur Pascasrjana UIN Mataram. Testimoni itu ia sampaikan pada kegiatan “Pelatihan Pengawas Sekolah Program Memperkuat Peran Auditor dan Pengawas Sekolah dalam Mempromosikan Toleransi dan Multikulturalisme di Sekolah”. Selain MAARIF Institut, kegiatan ini juga bekerjasama dengan Inspektur III Inspektorat Jenderal Kemdikbud RI.

Sebanyak 40 peserta yang berasal dari pengawas, kepala sekolah dan sejumlah auditor ini terilhat antusias dalam mengikuti seminar dan diskusi. Menurut para peserta, kepala sekolah, guru dan siswa memang harus menghayati dan menghormati perbedaan yang ada di sekitar mereka. Narasumber kegiatan ini antara lain Ir. Muhaswad Dwiyanto, C.Fr.A., M.Pd., CRGP (Inspektur III Itjen Kemendikbud RI), Abd. Rohim Ghazali, MA., (Direktur Eksekutif MAARIF Institute), Prof. Dr. Suprapto, M.Ag. (Direktur Program Pascasarjana UIN Mataram) dan Dr. Zuly Qodir (Akademisi UMY) . Selain itu juga hadir fasilitator 10 orang auditor pelatih dari Inspektorat III Itjen Kemdikbud RI. Abd. Rohim Ghazali, MA., Direktur Eksekutif MAARIF Institute, dalam kata sambutanya menyatakan bahwa tujuan diadakanya pelatihan  adalah untuk memperkuat kapasitas pengetahuan dan pengalaman pengawas sekolah dalam promosi toleransi untuk pencegahan intoleransi dan kekerasan radikalisme di sekolah. “Pengawas sekolah perlu memahami strategi dan praktik promosi toleransi dan pencegahan penetrasi paham dan gerakan intoleran dan radikalisme di sekolah”, lanjut Ghazali.